Home / Sesawi / 3 Orang Buta dan Sebuah Permenungan

3 Orang Buta dan Sebuah Permenungan

PAGI itu adalah hari pertama selepas libur Lebaran yang cukup menyegarkan. Seperti biasa, saya harus berjalan melalui sebuah jembatan penyeberangan untuk mencapai kantor saya yang letaknya tepat di sebelah Unika Atma Jaya Jakarta. Belum banyak orang lalu lalang, belum ada padatnya Jakarta yang menyesakkan. Jalan sepi, jembatan lengang, surga. Saat itulah, satu pemandangan yang mencengangkan ditangkap oleh mata saya, seketika trenyuh, dan malu.

Tiga orang buta berjalan di depan saya, sungguh indah melihat bagaimana mereka bekerja sama. Seorang dengan tongkat berjalan paling depan. Tongkatnya menari-nari ke segala arah, mencoba mencari jalan kosong untuk dia dan kedua orang temannya. Jelas dia sudah cukup hafal daerah ini namun masih sesekali kakinya tanpa sengaja menabrak pengemis yang duduk di pinggiran pagar jembatan karena lepas dari jamahan tongkatnya, ataupun menyenggol rak-rak para penjual asongan yang beberapa sudah mulai menggelar dagangannya di sepanjang jembatan.

Dua  orang buta lainnya berdiri di belakang orang buta dengan tongkat. Mereka membentuk barisan, layaknya ular dengan saling memegang pundak sebelah kanan kawannya. Orang yang berjalan di tengah membawakan tas si buta dengan tongkat. Sedang si buta yang paling belakang membawa keranjang berisikan roti-roti. Jika saya bisa terka, ada belasan plastik roti dalam keranjang besar yang dibawanya. Mungkin itu roti untuk kawan-kawan mereka yang lain yang sedang menunggu entah dimana.

Tiga orang dengan keterbatasan, saling menopang, dan saling percaya. Mereka sama-sama tahu batas kemampuan mereka, tapi mereka tak hanya mau terdiam dan meratapi nasib. Mereka mau tetap bergerak dan terus berkarya. Mereka tentu meyakini gerak mereka lebih lambat dari gerak orang kebanyakan, namun lambat bukan berarti tak mampu membuat sebuah perubahan.

Mereka tentu menyadari halangan dan rintangan yang akan mereka hadapi akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan apa yang akan dihadapi orang kebanyakan, namun mereka juga sangat memegang teguh kebersamaan dan kerjasama, yang tentunya akan melibas semua rintangan itu. Mereka tahu mereka lemah, tapi mereka tidak memupuk kelemahan yang ada. Mereka memampukan diri mereka, suatu sikap positif yang layak diteladani.

Jika boleh kita membandingkan, ada beberapa banyak kepercayaan yang bisa ditumbuhkan di antara kita yang sama-sama sempurna secara fisik dan mental ini? Kawan menikam kawan, atasan menindas bawahan, rekan kerja saling menjatuhkan. Kesempurnaan yang ada malah digunakan untuk persaingan tidak sehat. Berapa dari kita yang sempurna ini saling menopang? Keindividuan, kepentingan pribadi, dan kesuksesan diri sendiri, sangat merebak dalam gaya hidup kita. Memang tak bisa digeneralisasikan, tapi nyata fenomena ini ada, dan tidak sedikit jumlahnya.

Tiga orang buta membawa sebuah permenungan dan tentunya, pertanyaan tanpa jawaban.

Tautan: http://albhum2005.com

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *