Home / Sesawi / Berapa Kali dalam Sehari Kita Melanggar Aturan? (1)

Berapa Kali dalam Sehari Kita Melanggar Aturan? (1)

JUDUL tulisan saya ini bukan tentang hitung-hitungan atau matematika, meskipun saya mengawali sedikit kegalauan yang tertuang dalam tulisan ini dengan kata “berapa kali”.

Sudah beberapa hari ini memang saya terpikir untuk menulis tentang pelanggaran aturan. Saya sendiri ketika ditanya “berapa kali dalam sehari seorang robertus benny murdhani melanggar aturan?” pasti saya sendiri akan malu menjawabnya. Karena sudah pasti dalam sehari, saya ini baik secara tidak sadar maupun sadar (lebih banyak secara sadar sebenarnya) melanggar peraturan.

Mari kita hitung berapa pelanggaran yang saya lakukan dalam sehari-hari saya.

Dari pagi, ketika saya berangkat ke kantor. Saya ini sering sekali datang terlambat ke kantor. Jam kerja kantor saya yang seharusnya pukul 07.30, tapi saya seringkali datang lebih dari jam tersebut. Selanjutnya di sore hari selesai pulang kantor, saya seringkali melanggar peraturan lalu lintas dengan menyeberang di jalur penyeberangan di depan Museum Nasional pada saat lampu tanda pejalan kaki masih merah.

Saya menyeberang hanya karena jalanan sepi, padahal seharusnya saya menunggu lampu tanda pejalan kaki berwarna hijau. Selanjutnya, pelanggaran lalu lintas juga kerap kali saya lakukan ketika saya sampai di daerah blok M. Lagi-lagi saya seringkali menyeberang ketika lampu lalu lintas untuk kendaraan masih berwarna hijau. Kali ini alasan saya bukan karena sepi, tapi karena jalanan macet sehingga mobil dan motor berhenti.

Lihatlah, betapa banyak pelanggaran yang saya lakukan dalam sehari. Pelanggaran di atas itu baru contoh pelanggaran yang saya akui secara sadar dalam melanggar. Sedangkan pasti lebih banyak pelanggaran yang secara tidak sadar saya lakukan.

Sebenarnya apa sih yang sebenarnya membuat kita (terutama saya) seringkali melakukan pelanggaran aturan?

Ayo jujur

Jujur saya akui lagi bahwa kenapa saya seringkali melanggar adalah karena saya melihat banyak orang juga yang melanggar, dan mereka tidak dihukum apa pun. Dan, karena pelanggaran itu dilakukan beramai-ramai dan berulang-ulang, pelanggaran aturan tersebut menjadi hal yang dianggap biasa oleh masyarakat. Pelanggaran aturan tersebut menjadi semacam budaya tak tertulis yang tumbuh di masyarakat. Dan parahnya adalah budaya itu menjadi turun menurun ke generasi berikutnya, ketika generasi berikutnya tersebut terbiasa melihat orang tuanya melanggar peraturan.

Sebenarnya jika berbicara mengenai pelanggaran aturan, hal yang sering dikeluhkan dan disalahkan orang-orang pasti adalah kurang tegasnya penegakan hukum dan aturan di Indonesia. Jujur saya mengakui, hal tersebut memang sangat benar. Seringkali hukum dan aturan tersebut hanya sebatas pajangan saja tanpa bisa diterapkan secara menyeluruh, termasuk pemberian sanksi atau hukuman terhadap pelanggar aturan tersebut.

“Yang membuat aturan kan pemerintah, berarti pemerintah dong yang harus bertanggung jawab terhadap pelanggaran aturan.”

Pasti pernyataan itu yang ada di pikiran orang-orang bila berbicara siapa yang bertanggung jawab terhadap pelanggaran aturan. Saya sendiri kurang sependapat dengan pernyataan tersebut. Menurut saya, kita warga masyarakat pun memiliki peranan yang sangat besar terhadap tegaknya suatu aturan di dalam masyarakat. (Bersambung)

Artikel terkait: Berapa Kali Dalam Sehari Kita Melanggar Aturan: Siapakah Menerima Sanksi? (2)

Tautan: http://albhum2005.com

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *