Home / Sesawi / Merawat Pelangi Indonesia: Sahur Bersama Ny. Shinta Nuriyah Wahid di Gereja Kebon Dalem Semarang

Merawat Pelangi Indonesia: Sahur Bersama Ny. Shinta Nuriyah Wahid di Gereja Kebon Dalem Semarang

sahur kebon dalem bu shinta

SEMARANG, Senin, 29 Juni 2015, suasana kompleks Gereja dan Pastoran Kebon Dalem yang berada di kawasan pinggir kali (Girli) Kebon Dalem tampak semarak. Tenda-tenda dengan warna dominan merah putih membentang di atas jembatan dan salah satu sisi kali itu.

Kali yang biasanya terlihat kotor tersamar oleh kain-kain yang membentang. Tempat itu telah ditata menjadi panggung untuk menyambut tamu agung: mantan Ibu Negara Ny. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang akan makan sahur bersama sedikitnya 400-warga dari berbagai unsur strata sosial dan agama yang sudah berbondong-bondong hadir sejak pukul 01.00 WIB dini hari.

Alunan musik bercorak etnis Tionghoa menambah semarak suasana. Kelompok Musik “Lam Kwan Boen Hian Tong” dari Perkumpulan Sosial Rasa Dharma Semarang yang hadir bersama Budayawan Pasar Semawis, Harjanto Halim, sejak pukul 01.00 pula telah melantunkan lagu-lagu daerah Semarangan dan tembang-tembang Mandarin.

Kecuali itu, Rebana Assalam dari Jagalan Banteng, Semarang, tetangga Gereja dan Pastoran Kebon Dalem menambah suasana dini hari menjadi hangat. Para penari sufi dari Pondok Pesantren Al Islah, Tembalang asuhan Kiai Budi Hardjono kian memperindah warna seni dan budaya yang menghiasi kebersamaan penuh semangat persaudaraan lintasiman itu.

Para ibu dan muda-mudi Katolik sibuk melayani para tamu dengan memberikan sate ayam, nasi dos, kue dan minuman kepada semua yang hadir, mulai dari anak-anak hingga para lansia, tukang becak hingga pengusaha, ketua RT hingga Pak Camat Semarang Tengah, Bambang Suronggono, yang hadir dalam acara itu.

Tidak ketinggalan sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama, termasuk para Suster Biarawati Penyelenggaraan Ilahi (PI) Kebon Dalem.

Suasana semakin semarak saat Ibu Shinta Nuriyah Wahid hadir bersama rombongan. Disambut alunan rebana yang dipadu tarian sufi melangitkan salawat membawa suasana menjadi khidmat. Begitu Ibu Shinta menempatkan diri pada panggung sederhana yang dipersiapkan, acara sahur bersama dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Anas, Mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang. Tampak para hadirin khusyuk mendengarkan dan masuk dalam suasana doa.

“Selamat datang Ibu Shinta yang kami kasihi. Seorang Ibu yang peduli kepada anak-anak sebangsa setanah air kendati berbeda latar belakang dan agama. Terima kasih kepada semua saja yang berkenan hadir memenuhi undangan sahur bersama ini. Berkali-kali perjumpaan dengan Ibu Shinta, di Yogya, di Muntilan, di Semarang dan di Ciganjur meneguhkan semangat persaudaraan sejati anak-anak bangsa ini.”

Tamba Ati

Begitulah Romo Aloys Budi Purnomo, Pr yang menjadi tuan rumah memberikan sambutan. Sambutan pun ditutup dengan melantunkan tembang Tamba Ati dengan alunan baby-saxophone berkolaborasi dengan Rebana Assalam dan Tarian Sufi.

Dalam wejangannya, Ibu Shinta yang adalah Ibu Negara Republik Indonesia saat KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia menegaskan, betapa indah keberagaman di negeri ini. “Di sini, saya menatap pelangi Indonesia yang indah. Tak boleh satu warna pun dihapus dan ditiadakan agar keindahan tetap terpancar. Pelangi itu harus dirawat sebab pelangi itu adalah pelangi keberagaman kita sebagai bangsa” kata Ibu Shinta mengawali wejangannya.

Lebih lanjut beliau mengatakan, “Sudah sejak lima belas tahun terakhir ini, saya berkeliling untuk buka dan sahur bersama setiap bulan Ramadhan untuk berjupa dengan para kuli bangunan, mbok-mbok bakul, anak jalanan, dan siapa saja yang mau ikut serta dalam acara seperti ini. Tujuannya hanya satu, saling menghormati untuk merajut silaturahmi dan persaudaraan dengan siapa saja warga bangsa ini.”

sahur kebon dalem santri cilik
Para Pemain Rebana Assalam Jagalan Banteng Semarang bersama Romo Aloys Budi Purnomo Pr

Ketika Sr. Yulia PI bertanya, “Ibu, siapa yang akan menjadi generasi penerus untuk hal yang baik ini?” dengan rendah hati beliau menjawab, “Siapa saja yang menghendakinya. Syukurlah, anak-anak Gus Dur – tentunya juga anak-anak saya – mau bergerak dalam semangat ini misalnya melalui Gusdurian-nya.”

Acara sahur bersama ini ditutup dengan ajakan Ibu Shinta sendiri untuk kembali melantunkan irama tembang Tamba Ati, namun dengan syair yang biasa ditembangkan mendiang Gus Dur kala masih hidup. Ibu Shinta sendiri melantunkannya dalam bahasa Arab dengan suaranya yang ternyata merdu juga.

Kiai Budi Hardjono yang didaulat untuk menutup acara sahur bersama dengan doa juga menandai dengan menyerahkan caping petani kepada Ibu Shinta dan meminta Romo Budi Purnomo untuk membagikan sepuluh caping-caping lain kepada para hadirin.

sahur kebon dalem 2
Sebagian dari 400-an peserta sahur bersama di Kompleks Gereja Katolik Girli Kebon Dalem

 

 

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *