Home / Sesawi / OMK Keuskupan Purwokerto: Diberkati untuk Berbagi

OMK Keuskupan Purwokerto: Diberkati untuk Berbagi

PDYD12

PERJUMPAAN dalam Purwokerto Diocese Youth Day (PDYD) 2015 empat hari tiga malam (25-28 Juni 2016) membawa kesan yang mendalam. Sukacita dan susah sedih dijalani bersama OMK dan Panitia PDYD 2015. Perjumpaan PDYD 2015 sendiri diisi berbagai kegiatan yang menarik dan tentunya mengembangkan orang muda.

Di hari kedua, teman-teman muda diajak untuk melihat sejarah Keuskupan Purwokerto dengan segala perjuangannya. Orang muda diajak untuk menghargai sejarah dan menumbuhkan rasa memiliki atas Gereja yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Setelah mendapat penjelasan dari Rm. Stefanus Harianto secara gamblang perjalanan dari tahun ke tahun Keuskupan Purwokerto, para peserta diajak utk diskusi dan refleksi bersama. Orang muda katolik peduli dan menjadi bagian dari Gereja Keuskupan Purwokerto.

“Orang muda dipanggil untuk menghayati babtisannya dan bangga menjadi katolik”, seru Rm. Santo dengan tegas ketika membawakan materi Spirit of Catholic Youth. Berulangkali peserta meneriakan Amin sebagai bentuk setuju bahwa orang muda dipanggil untuk berani mewartakan dalam hidupnya dalam keberanian mengampuni, mengakui Allah yang Esa, mencintai dan sebagainya.

Pada malam hari peserta diajak untuk berdoa Adorasi dengan iringan lagu-lagu Taize. Orang muda ingin mendekatkan dengan Allah yang menjadi sumber bagi para peserta untuk berani berbagi. Acara berlanjut dengan Sakramen Tobat yang dilayani 15 Romo.

Di hari ketiga, para peserta jam 04.30 pagi sudah memulai aktivitas dengan mengantri mandi. Tepat pukul 06.30 perayaan Ekaristi dimulai. Dalam homilinya Rm. Ary menjelaskan bahwa orang muda seringkali mengalami situasi dipersimpangan dan tidak tahu arah.

Kebingungan menentukan arah hidup seringkali membawa OMK salah jalan. Maka penting orang muda membuat pilihan yang tepat dengan dibantu para pendamping. “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” (lih. Mat. 8: 5-17). Di siang hari setelah makan pagi peserta dikelompokkan dalam empat workshop sesuai dengan minatnya.

Ada workshop teater, jurnalistik, liturgi, kewirausahaan yang dikemas menarik bagi orang muda. Suasana pesta rakyat amat terasa di sore hari ketika digelar games rakyat. Berbagai perlombaan diikuti para peserta yang sudah akrab satu dengan yang lain.

Pentas seni daerah

Kreatifitas para peserta PDYD 2015 ditunjukkan dalam pentas seni di malam harinya. Pertunjukan gabungan antar paroki menjadi sajian menarik. Tari, lagu, hip hop membawa para peserta tetap bersemangat.

Tampilan drama kumpulan pocong, gendrowu, tuyul dan lain-lain ingin mengkritik bagaimana manusia dengan mudah mempersalahkan setan apabila berbuat salah padahal manusia mencari senangnya sendiri. Seni Dolalak yang disajikan banyak OMK menjadi bentuk sikap bahwa OMK juga mencintai budaya.

Suasana makin meriah ketika Pongki tampil menghibur para peserta. Ia pun pesan supaya OMK berani hidup mengedepankan kejujuran.

Pada hari Minggu, hari terakhir, peserta berkumpul bersama kelompok music Gamsta. Selain bernyanyi bersama, anggota Gamsta juga berbagi pengalaman dan perjuangan mereka dalam hidup. Mereka membagikan pengalaman dapat mewartakan lewat lagu-lagu.

Bahkan mereka dapat mengikuti AYD 2014 di Korea dan berjumpa Paus karena mau mewartakan Tuhan. Bersama Tuhan semua menjadi mungkin. Selain Gamsta, Fidelis juga membagikan pengalaman selama mengikuti program Indonesia Mengajar. Pengalaman mengajar di tengah-tengah murid-murid yang bukan seagama dengannya menjadi pengalaman menarik. Bersama Tuhan Ia merasakan dapat menjelaskan dan membangun kerukunan dan saling menghargai. “Saya bahagia karena bisa melakukan apa yang menjadi pilihan dan impian saya,” tegasnya.

Perjumpaan PDYD 2015 ditutup dengan perayaan Ekaristi dengan koselebran utama Mgr. Julianus Sunarka.

Mgr. Sunarka yang menyebut diri sebagai simbah dari para peserta ini mengajak orang muda menjadi garam dan orang yang mampu memberi keteladanan pada masyarakat. Kesetiaan orang muda juga ditekankan Mgr. Sunarka.

Beliau sempat mendendangkan lagu “Aku Masih Seperti yang Dulu” dengan penuh semangat.

Acara PDYD ini akan diselenggarakan 4 tahun sekali. Proficiat untuk PDYD 2015

Theme Song PDYD: “Untuk Berbagi”

Hay kau yang di utara
Hay hay hay kau yang di tengah
Hay kau yang di selatan
Hay hay hay kau yang di timur

Teriakkan hay teriakkan hay
Semangat kaum muda
Bersama-sama kita satukan iman
Diberkati Allah untuk berbagi

Ini saatnya di PDYD kita tunjukkan
Diberkati untuk berbagi
Diberkati untuk berbagi

Sumber: http://orangmudakatolik.net/2015/06/28/omk-keuskupan-purwokerto-diberkati-untuk-berbagi/

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *