Home / Renungan Harian Online / Pemulihan Hubungan dengan Tuhan

Pemulihan Hubungan dengan Tuhan

Ayat bacaan: Markus 15:38
======================
“Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.”

Dapatkah anda sebagai seorang warga biasa bertemu dan berbicara dengan seorang kepala negara kapanpun anda mau? Ada birokrasi-birokrasi dan urusan protokoler yang harus anda lewati terlebih dahulu. Masing-masing meja akan mempertanyakan urgensinya, dan itu bukan tergantung dari urusan kepentingan kita melainkan seringkali dari sisi untung rugi pemerintah yang akan selalu diatasnamakan sebagai kepentingan negara. Artinya, meski anda tengah megap-megap hampir mati, mereka tidak akan berkenan bertemu dengan anda karena hilangnya satu nyawa itu tidak akan mendatangkan kerugian apa-apa kepada negara, kecuali anda seorang publik figur, selebritis atau orang penting lainnya. Kalaupun akhirnya urgensinya dirasa memang ada, anda masih harus dijadwal terlebih dahulu untuk bisa bertemu. Itu bisa makan waktu harian, mingguan bahkan bulanan.

Begitu pula dengan Dalam banyak hal di kehidupan atau pekerjaan kita pun demikian. Terkadang urusan protokoler yang penuh dengan birokrasi rumit dan berliku-liku harus kita hadapi. Terkadang kita hanya bisa menyampaikan aspirasi atau kebutuhan kita lewat orang-orang tertentu sebagai wakil dari orang yang dituju. Kita tidak akan seenaknya diperbolehkan untuk bertemu dengan mereka. Dalam struktur perusahaan besar pun sama. Pemilik perusahaan biasanya tidak akan mengenal karyawan dalam struktur terendah di perusahaannya. Sang karyawan terendah ini pun mungkin tidak akan pernah bertemu dengan sang pemiliki. Semua ada jenjangnya. Masing-masing hanya akan bertanggungjawab kepada supervisornya, lalu si supervisor punya atasan lagi, dan seterusnya.

Sekarang, bagaimana dengan hubungan antara kita dengan Dia yang menciptakan kita? Apakah kita harus melewati urusan birokrasi terlebih dahulu dan dipertanyakan urgensinya? Adalah menarik mencermati fakta bahwa Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa. Tidak peduli setinggi apa posisinya, sebagai anak sendiri tentu kita bisa bertemu dengan ayah kita kapan saja. Dan itulah memang yang terjadi dalam hubungan kita dengan Allah Bapa. Tidak akan pernah hubungan itu dipersulit, tidak perlu ada perantara atau urusan protokoler, tidak ada birokrasi berbelit. Kita bisa berhubungan denganNya kapan saja, dan Dia tidak akan pernah terlalu sibuk buat kita tapi akan dengan senang hati menyambut kedatangan kita untuk berbicara denganNya. Semua itu dimungkinkan karena Kristus turun ke dunia, bukan saja menghadiahkan kita terhadap keselamatan tetapi juga memulihkan kerusakan hubungan manusia dengan Tuhan akibat dosa.

Sebelum kedatangan Yesus, pola birokrasi untuk menghadap Tuhan pun tidaklah mudah. Mendengar suara Tuhan saja bisa menyebabkan kematian seperti yang beberapa kali disebutkan dalam kitab Ulangan, apalagi kalau sampai melihat Allah secara langsung. Inilah konsekuensi akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Meski demikian, Tuhan tidak ingin hubunganNya dengan manusia terputus total. Maka ada perantara-perantara yang diutus Tuhan, yaitu para nabi yang Dia pilih sendiri, untuk menyampaikan isi hatiNya kepada manusia. Coba perhatikan bagaimana firman Tuhan pada Musa ketika Dia hendak menurunkan 10 Perintah/Hukum Allah di atas gunung Sinai. (Keluaran 19-20). Tuhan menegaskan bahwa bangsa Israel tidak diperbolehkan menaiki gunung melewati pembatas. (Keluaran 19:21). Tuhan meminta agar gunung itu harus diberi pembatas dan dinyatakan sebagai tempat kudus. (Keluaran 19:23). Hanya Musa dan Harun saja yang diperbolehkan untuk bertemu dengan Tuhan. Posisi Imam Besar pun cukup memegang peranan penting sebagai perantara. Hanya merekalah yang diperbolehkan memasuki ruangan Mahakudus dalam bait Allah. Itupun hanya boleh setahun sekali, ketika mereka membawa darah korban persembahan. (Ibrani 9:25). Begitulah hubungan yang terputus antara manusia dengan Tuhan akibat jatuh ke dalam dosa. Besarnya kasih Tuhan kemudian membuatNya rela mengorbankan Kristus demi sebuah misi keselamatan umat manusia. Dan karya penebusan Kristus lewat kematianNya di atas kayu salib memulihkan hubungan antar Tuhan dan manusia yang sebelumnya rusak.

Ada peristiwa unik yang secara simbolis menggambarkan hal itu. Ketika Yesus wafat, saat itu juga Bait Suci terbelah dua dari atas sampai bawah. (Markus 15:38). Hal ini adalah sebuah gambaran simbolis bahwa lewat kematian Yesus, sekat pembatas yang telah begitu lama menghalangi manusia agar bisa berjumpa denganNya tidak lagi perlu ada. Jalan yang tadinya tertutup kini sudah terbuka. Orang tidak lagi harus melalui perantaraan para Imam Besar untuk dapat bertemu Tuhan. Kita tidak lagi perlu takut mati ketika memasuki tahta kudus Tuhan, karena lewat penebusanNya, Tuhan Yesus sendirilah yang langsung menjadi perantara. “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” (Ibrani 10:19-21). Dan dengan Kristus sendiri sebagai perantara, kita bisa menghampiri tahta kasih karunia Allah dengan penuh keberanian untuk menemukan kasih karunia agar mendapat pertolongan pada waktunya. (Ibrani 4:16). Yesus telah membuka jalan sehingga kini dimanapun, kapanpun, siapapun kita ini, kita bisa bertemu dengan Tuhan.

Hari ini marilah kita semua mensyukuri dengan penuh sukacita atas apa yang telah diberikan Kristus kepada kita. Sebuah pemulihan hubungan, merubuhkan sekat-sekat pembatas antara manusia dengan Tuhan sehingga kita bisa merasakan kedamaian hadirat Tuhan hari ini. Yang penting untuk diingat, agar bisa menikmati hubungan tanpa batas penghalang dengan terbelahnya  tabir Bait Suci, kita harus terlebih dahulu menerima Yesus sebagai Juru Selamat, karena hanya lewat Yesus saja kita bisa dengan penuh keberanian untuk menghampiri hadirat Tuhan yang suci dan kudus. Sembahlah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran, dan rasakanlah kedamaian dan keindahan dari tahtaNya yang suci dan kudus.

Yesus membuka jalan dan memulihkan hubungan kita dengan Tuhan lewat karya penebusanNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

About dr.gaplek

Check Also

Belajar Lewat Keteladanan Paulus (2)

(sambungan)Dalam masa hidupNya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung pula. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk m...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *