Home / Sesawi / Pengaruh Jejaring Sosial pada Gaya Bahasa Penggiatnya

Pengaruh Jejaring Sosial pada Gaya Bahasa Penggiatnya

SUATU waktu saya membaca  status seorang teman di situs jejaring sosial. Kira-kira seperti ini: “Cmungud Kk

Bisakah anda mengerti arti kata itu?Sebelum menonton banyolan Raditya Dika dalam salah satu acara hiburan yang didokumentasikan melalui situs YouTube, saya sama sekali tidak mengetahui maksud kata-kata tersebut. Itu pun dari penjelasan seorang teman yang kebetulan nonton bareng acara tersebut, kira-kira begini artinya: “Semangat Kakak”.

Tergelaklah mendengar penjelasan kawan yang berusaha memberi detil makna. Saya yang terlalu lugu atau ketinggalan zaman? Sehingga tidak mengetahui kata-kata yang sering saya lihat di situs jejaring sosial. Entah kenapa saya merasa penasaran, tetapi tidak berusaha mencari tahu maknanya karena memang bukan hal yang penting untuk dibawa sampai ke alam mimpi. Anda harusnya setuju dengan pernyataan saya yang terakhir ini. Hehe…

Di lain kesempatan saya menemukan kata-kata janggal: “unyu-unyu”.

Apalagi ya ini? Untuk satu kata ini, tanpa sengaja saya mengunjungi forum yang kebetulan membahas makna “unyu”. Terjadi berbagai perdebatan yang berujung pada silang pendapat, karena  belum ada kata sepakat yang menjelaskan makna kata tersebut. Bahkan sampai sekarang pun saya belum mengetahui makna “unyu”, karena belum ada yang mengaku sebagai pencipta kata “unyu”.

Baiklah, kita lupakan saja apa sebenarnya misteri dibalik kata itu karena memang tidak patut juga dijadikan sumber inspirasi apalagi aspirasi.

Fenomena yang saya amati ada banyak teman di dunia maya yang menyebutkan kata-kata tersebut, tetapi tidak mengetahu artinya. Seperti mengambil kucing dalam karung, asal mencontoh secara spontan. Sesuatu yang dianggap menarik langsung diambil dan digunakan, tanpa menimbang segi kepantasan untuk dipublikasikan apa tidak.

Mengingat situs jejaring sosial dapat dinikmati oleh banyak orang. Tidak sedikit yang tersandung gara-gara salah berkomentar di situs itu.  Bukan tidak mungkin apa yang dicontoh bertentangan dengan UU Teknologi Informasi yang melarang publikasi kata-kata yang tidak mengindahkan norma kesopanan. Spontanitas tidak hanya dilakukan oleh orang yang memposting kata-kata, tetapi terlihat juga dari orang lain yang turut menanggapinya. Jika memang sepakat, itu adalah sesuatu yang tidak penting, mengapa harus turut terjerumus pada sesuatu yang tidak penting? Apakah tidak ada hal yang lebih bermakna untuk ditanggapi?

Asbun

Budaya berkomentar secara spontan (baca: berkomentar asal-asalan tanpa berpikir panjang), agaknya sudah sedikit mengakar di dalam situs jejaring sosial. Ibarat berbalas pantun, ketika ada orang mem-posting sebuah kata atau kalimat, langsung saja ditanggapi dengan sebuah kata atau kalimat juga dan begitu seterusnya. Apa yang terlintas saat itu, ya itulah yang dijadikan tanggapan.

Coba kalau dipikirkan sejenak dan hasilnya dituangkan dalam ramuan kata-kata, tentu hasilnya akan berbeda dan lebih enak dibaca oleh orang lain. Memang tidak semua hal harus dipikirkan, tetapi memilih topik-topik yang patut untuk ditelisik lebih lanjut. Ini tentunya akan meminimalisasi terjerumusnya seseorang karena kata-katanya sendiri.

Pernah suatu kali mantan dosen saya mengeluarkan uneg-unegnya: “Mahasiswa zaman sekarang tidak suka baca novel, membuat laporan praktikum kata-katanya amburadul” . Dalam perspektif saya, itu adalah imbauan untuk belajar olah kata dari sesuatu yang dipikirkan dan ditulis dengan hati-hati agar enak dibaca, dirasakan oleh penikmatnya dan tentunya memiliki makna atau nilai luhur yang disampaikan. Bukan sesuatu yang ditulis tanpa memiliki tujuan yang jelas dan tidak dimengerti oleh pembaca.

Menurut teman saya, “unyu” berarti lucu. Setujukah anda?

Tautan: http://albhum2005.com

 

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

One comment

  1. Unyu= oh no. . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *