Home / Renungan Iman Katolik / Perempuan dan UHC

Perempuan dan UHC

Ilustrasi (Ist)

PADA Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Kamis, 8 Maret 2018, Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan perlunya kesetaraan gender yang harus menjadi inti dari program ‘Kesehatan untuk Semua’.


Apa yang harus dilakukan?


Dunia harus dikreasi agar setiap perempuan dan remaja puteri (every woman and girl) memiliki akses terhadap layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Selain itu, setiap perempuan dan remaja puteri seharusnya dapat dengan bebas menjalankan hak kesehatan seksual dan reproduksi mereka, sehingga semua perempuan dan remaja puteri diperlakukan dan dihargai sama (are treated and respected as equals).


Tema Hari Perempuan Internasional 2018 adalah “Sekarang saatnya semua aktivis mengubah kehidupan perempuan”; (“Time is Now: Rural and urban activists transforming women’s lives”).


Hari ini kita diingatkan agar fokus tentang kesetaraan jender dan hak perempuan. Di dalam lingkup kesehatan, fokus untuk hak perempuan dan remaja puteri terhadap akses layanan kesehatan. Bila semua remaja puteri dapat bersekolah lebih lama, semua perempuan mampu merencanakan atau mencegah kehamilan dan mengakses layanan kesehatan tanpa diskriminasi, mereka semua dapat memperbaiki peluang ekonomi dan akhirnya mengubah masa depan mereka.


Saat ini, setidaknya setengah dari populasi di dunia kekurangan akses terhadap layanan kesehatan penting, terutama pada perempuan dan remaja puteri. Demikian juga untuk perawatan antenatal selama kehamilan, atau imunisasi untuk mencegah tetanus neonatal dan imunisasi HPV pada anak perempuan untuk mencegah kanker leher rahim pada saat menjadi ibu. Hal itu disebabkan karena tidak tersedia atau secara finansial tidak terjangkau.


Pada 13 Desember 2017 Bank Dunia dan WHO melaporkan bahwa sedikitnya setengah dari populasi dunia tidak dapat memperoleh layanan kesehatan esensial. Selain itu, setiap tahun sejumlah besar rumah tangga didorong ke dalam kemiskinan (of falling into poverty), karena mereka harus membayar perawatan kesehatan dari kantong mereka sendiri. Saat ini, 800 juta orang menghabiskan setidaknya 10 persen dari anggaran rumah tangga mereka untuk biaya kesehatan untuk diri mereka sendiri, anak yang sakit atau anggota keluarga lainnya.


Hampir 100 juta orang juga menjadi jatuh dalam kemiskinan ekstrim, yaitu hidup dengan kurang dari $ 1,90 per hari, karena mereka harus membayar biaya layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri. Ini tidak bisa diterima (This is unacceptable). Ibu seharusnya tidak boleh dipojokkan untuk memilih apakah akan mengirim anaknya ke sekolah, membeli makanan atau membayar biaya layanan kesehatan.


Cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) yang menjadi prioritas utama WHO, berarti bahwa paket layanan kesehatan yang dirancang untuk perempuan dan remaja putri harus mencakup layanan untuk mempromosikan kesehatan, dengan mencegah dan mengobati penyakit. Memang masih tidak termasuk akses terhadap layanan kontrasepsi dan keluarga berencana pada perempuan.


Hal ini sebenarnya membatasi kemampuan perempuan untuk merencanakan atau mencegah kehamilan. Pada hal, hak kesehatan adalah untuk semua orang. Dengan demikian, ini tidak adil (it’s discrimination) dan akan memicu ketidaksetaraan gender lainnya secara lebih lanjut.


Dasar untuk mencapai UHC adalah keadilan. Semua perempuan dan remaja puteri, kaya atau miskin, tinggal di perkotaan atau pedesaan, berpendidikan atau buta huruf, harus dapat mengakses layanan kesehatan secara setara.


Namun demikian, di negara berpenghasilan rendah dan menengah, proporsi kelahiran yang dotolong oleh tenaga kesehatan terampil berbeda hingga 80 persen antara wanita terkaya dan paling miskin. Padahal, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang terampil merupakan kunci untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir.


Sekitar 830 ibu meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari, meskipun sebenarnya sebagian besar dapat dicegah dengan intervensi medis selama kehamilan dan saat persalinan. Menurut  Profil Kesehatan Indonesia 2016, terdapat 4.121.117 ibu atau 80,61%  yang menjalani persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas kesehatan di Indonesia.


Sedangkan Provinsi Maluku Utara memiliki capaian terendah hanya sebesar 17,79%, diikuti oleh Maluku sebesar 25,71%, dan Papua sebesar 39,18%. Namun demikian, tindakan operasi pembedahan caesar di seluruh RS telah dilakukan pada 480.622 ibu, jauh lebih banyak dibandingkan persalinan normal per vaginal, yang hanya terjadi pada 309.223 ibu.


Momentum Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) Kamis, 8 Maret 2018, mengingatkan kita agar mendorong tenaga kesehatan perempuan untuk berpartisipasi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, mengakses pekerjaan formal, menerima upah yang adil, dan bekerja di tempat yang bebas dari kekerasan fisik dan seksual.


Apakah kita telah ikut mewujudkan?


Dr dr FX Wikan Indrarto SpA

Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta dan RS Siloam, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

About dr.gaplek

Check Also

Bacaan dan Renungan Hari Senin 28 Januari 2019

9:15 Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *