Home / Renungan Harian Online / Pikiran dan Perasaan

Pikiran dan Perasaan

Ayat bacaan: Filipi 2:5
==============
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”

Kemarin saya sudah menyampaikan pentingnya untuk menaklukkan pikiran dan sempat menyinggung soal perasaan. Antara pikiran dan perasaan terdapat perbedaan walau bisa saling terkait satu sama lain, dan setiap orang pasti memiliki keduanya. Pikiran berisi hal-hal tentang logika, ilmu pengetahuan, akal juga imajinasi atau proyeksi rekaman otak. Sedang perasaan merupakan perkara ‘sensasi’ yang hanya bisa diakses melalui jiwa dan hati. Tanpa keduanya kita akan sulit dikatakan sebagai manusia, dan seringkali kedua hal inilah yang menentukan langkah-langkah pengambilan keputusan dan proses lainnya dalam hidup.
Sekarang, sadarkah kita bahwa pikiran atau perasaan bisa sangat menentukan tingkat keimanan kita? Salah satunya bisa saling mengganggu pertumbuhan iman, atau malah dua-duanya saling berkomplimen untuk mendegradasikannya. Mari kita ambil contoh. Pikiran anda mengetahui Firman Tuhan berkata jangan takut, tapi perasaan anda masih sering diliputi rasa cemas, khawatir, dihantui ketakutan bahkan atas hal yang sepele. Sebaliknya, perasaan anda mungkin sudah mengingatkan lewat hati nurani akan sesuatu hal, tetapi pikiran anda meyakinkan bahwa sebuah langkah harus diambil karena keuntungannya menjanjikan. Ini contoh yang mudah-mudahan bisa membuat anda paham akan perbedaannya. Yang lebih parah lagi kalau keduanya masih belum tereformasi. Misalnya anda tidak kenal janji Tuhan, perasaan pun terus takut. Itu tentu sama sekali tidak baik bagi pertumbuhan iman. Ketahuilah bahwa dalam pengalaman saya ketemu banyak orang, saya mengambil kesimpulan bahwa pikiran dan perasaan, baik salah satu maupun keduanya bisa menjadi celah bagi si jahat untuk merusak kehidupan iman kita. Jadi kita tentu sepakat bahwa antara perasaan dan pikiran harus sinkron, tersambung dengan baik untuk mengacu kepada kebenaran. Bagaimana caranya dan kemana?

Ayat hari ini secara jelas memberi jawabannya. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah memberi peringatan (warning) mengenai pentingnya mengawal atau memperhatikan pikiran dan perasaan dengan serius. Lewat Paulus, Firman Tuhan menyerukan bahwa kita harus menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus. Dengan kata lain, adalah penting bagi kita untuk memedomani cara pikir dan perasaan Yesus alias selaras dengan Yesus. Itulah yang akan memampukan kita untuk bisa mensinkronkan pikiran dan perasaan kita agar keduanya mengacu kepada kebenaran Allah tepat seperti segala sesuatu yang diajarkan Kristus.

Selanjutnya kita juga perlu mengetahui bahwa apa yang bisa memelihara hati (perasaan) dan pikiran kita dalam Yesus tidak lain adalah damai sejahtera Allah. Ini disebutkan dalam Filipi 4:7, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Ayat ini didahului dengan pesan bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap masalah. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (ay 6). Kita diingatkan agar jangan khawatir terhadap segala perihal yang menyusahkan hidup kita, tetapi bawakanlah semuanya kepada Allah dengan disertai doa dan ucapan syukur. Lalu ayat berikutnya setelah ayat 7 mengingatkan kita untuk tetap mendasarkan pikiran kita terhadap segala sesuatu “yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (ay 8), lalu kita diminta pula untuk mempelajari apa yang sudah kita terima baik lewat pendengaran atau penglihatan. Dan disanalah damai sejahtera Allah akan ada beserta kita. (ay 9). Kunci untuk bisa mensinkronkan perasaan dan pikiran jelas tergambar dari rangkaian ayat-ayat ini. Jangan berhenti pada apa yang telah kita pelajari atau ketahui karena itu hanyalah tersimpan dalam pikiran, tapi praktekkanlah langsung lewat cara hidup kita, dan itulah yang akan bisa membangun jembatan antara pikiran dan perasaan agar keduanya berisi nilai-nilai kebenaran yang bisa terpancar keluar secara sinergi.

Antara pikiran dan perasaan ada hubungan, dimana kondisi salah satu atau keduanya bisa sangat menentukan perjalanan pertumbuhan keimanan kita. Karena itu kita perlu memeriksa keduanya secara serius dan menyelaraskan hubungan antara keduanya. Artinya pikiran dan perasaan harus sejalan, dan menuju kepada kebenaran. Selaraskan dengan Yesus Kristus, lantas pelihara dengan memiliki damai sejahtera Allah. Itulah yang akan memastikan agar pengetahuan kita akan Firman Tuhan tidak menguap sia-sia dan tidak membawa dampak apapun dalam hidup kita. Jika anda masih sulit untuk memastikan apakah keduanya sudah sejalan atau belum, anda bisa memakai cara Daud untuk meminta Tuhan memeriksa pikiran dan perasaan kita. “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.” (Mazmur 26:2). Dalam bahasa Inggris ayat ini berbunyi: “Examine me, O Lord, and prove me; test my heart and my mind.” Tuhan, periksalah perasaan dan pikiranku, kata Daud. Dengan cara yang sama kita bisa memastikan kondisi keduanya agar selaras dengan Tuhan.

Both our mind and heart need check and be connected to Jesus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

About dr.gaplek

Check Also

Belajar Lewat Keteladanan Paulus (2)

(sambungan)Dalam masa hidupNya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung pula. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk m...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *