Home / Sesawi / Purwokerto Diocese Youth Day (PDYD) 2015: Catatan Reflektif

Purwokerto Diocese Youth Day (PDYD) 2015: Catatan Reflektif

BAPAK Uskup, para romo, dan saudari-saudara semua,

Bacaan Minggu Biasa ke-13 kemarin menjadi bingkai dari geliat orang muda katolik se-Keuskupan Purwokerto, baik mereka yang menjadi peserta maupun panitia. Yesus mengatakan: jangan takut, percaya saja.

Kata-kata Yesus ini membuka refleksi tentang perjuangan panitia untuk menyiapkan event besar ini. Mengumpulkan OMK se-keuskupan agar sungguh menghayati spiritualitas keterlibatan dan kebersamaan, mengakar dalam iman dan bertanggungjawab pada perutusan.

Sejak hampir satu tahun yang lalu, Komisi Kepemudaan mulai menggagas acara berjudul Purwokerto Diocese Youth Day ini. Jatuh bangun teman teman panita menyiapkannya. Ada sukacita dan kegembiraan, tapi ada juga kekhawatiran dan kecemasan.

Namun, benar kata Yesus: jangan takut percaya saja. Ada beragam cara Tuhan membantu kami. Tentu saja lewat Keuskupan (bapak uskup dan kuria), para romo semua, Pak Budi dan ibu (Wakil Bupati Banyumas), umat, komunitas Suster Dominikan, dan bruderan, para frater, para donatur yang tidak bisa kami sebut satu persatu. Terimakasih untuk itu semua.

Acara PDYD telah selesai dan dipuncaki dengan Perayaan Ekaristi Perutusan, tepat tanggal 28 Juni 2015 kemarin, dipimpin oleh Bapa Uskup Mgr. Julianus Sunarka.

700-an OMK
Saya menyampaikan sekilas laporan kegiatan selama empat hari.

700-an orang muda katolik baik peserta maupun panitia dari 24 paroki hadir dalam acara PDYD 2015 ini.

Dibuka dengan Perayaan Ekaristi oleh Romo Antonius Haryanto, Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI. Rangkuman homilinya kemudian menjadi yel-yel PDYD kali ini. “PDYD 2015…. Aku diberkati, aku memberkati, aku menggerakkan”.

Tema “Diberkati untuk Berbagi” kemudian diwujudkan dalam 4 dinamika: diambil, diberkati, dipecah, dan dibagikan.

Pengalaman diambil direfleksikan dalam dua sesi: penyadaran tentang sejarah Keuskupan Purwokerto dan tanggungjawab kita untuk melanjutkan. Sesi ini diberikan oleh Rm. Stef Heriyanto dan Fr. Budi. Juga sesi The Spirit of Catholic Youth oleh Romo Dwi Harsanto.

Tidak gampang bagi teman-teman OMK ini untuk mendengarkan paparan materi. Tapi usaha para pemateri patut diacungi jempol. Lomba membuat film pendek sejarah paroki dan menulis sejarah paroki juga banyak membantu usaha penyadaran pengalaman diambil ini.

OMK Tegal menjadi juara pembuatan film pendek. Sedang untuk penulisan sejarah paroki dimenangkan oleh OMK Sidareja.

Pengalaman dipecah diperdalam dengan doa meditatif Taize yang dibantu oleh teman-teman frater dan sakramen rekonsiliasi. Ada 15 imam yang melayani 200 peniten. Tidak semua peserta mengaku dosa.

Pengalaman diberkati diresapkan dalam beberapa kegiatan: lewat sesi Spirit of Catholic Youth, ekaristi harian, sakramen rekonsiliasi.

Perayaan EKaristi harian diikuti oleh semua peserta meski ada yang sudah mandi, ada yang belum. Misa selalu berjalan dengan khusuk, begitu juga acara-acara doa. Sesuatu hal yang membanggakan karena teman-teman muda ini bisa menempatkan diri dengan baik.

Pengalaman dipecah juga masih diperdalam dengan empat workshop bagi orang muda:

  • Sekitar 200-an peserta yang mengikuti workshop “Social Enterpreunership” bersama Mas Leon dari Jakarta.
  • 180-an peserta mengikuti workshop teater bersama Romo Teguh Budiarto.
  • 100-an peserta workshop Liturgi yang Hidup bersama dengan Rm. Sheko.
  • 100-an peserta workshop Jurnalistik bersama Mas Sutriyono.
  • Peserta antusias karena tidak hanya pemaparan teori, tapi diajak untuk sampai pada praktik dan pelatihan.

Teman-teman OMK juga diajak untuk mampu bekerjasama dalam kegembiraan meski berasal dari tempat berbeda-beda lewat games kerakyatan: makan krupuk, mecahin air, nari balon, dan memasukkan pensil dalam botol. Lomba ini berjalan meriah dan penuh kegembiraan.

Malam terakhir, kebersamaan dirayakan dengan pentas seni per-dua paroki. Akhir acara pentas seni, ada Pongky Bharata (artis Katolik) yang menyanyi 6 lagu untuk kami dan mengakhiri dengan pesan agar OMK terus bersemangat dan jujur.

Hari terakhir, semua peserta diajak untuk mendalami makna dibagi.

Ada Fidelis yang bersharing kepada kami soal perjuangannya mengikuti program Indonesia Mengajar. Ia mengatakan: hidup cuma sekali, buatlah berarti dengan berbagi. Kamu ga akan rugi. It’s not about me, or about you. Ini tentang TUhan yang kita kasihi.

Selain Fidelis (OMK dari Bumiayu), ada grup musik GAMSTA, yang mengaransemen lagu-lagu dari Puji Syukur dan Madah Bakti dengan nuansa akustik orang muda. Mereka bercerita pengalaman mereka berbagi hingga bisa sampai di Asian Youth Day.

Selain itu, para perwakilan OMK dan pendamping juga berkumpul untuk membicarakan Rencana Tindak Lanjut.

  • Rencana TIndak Lanjut yang sudah disepakati adalah:
    PDYD akan menjadi kegiatan rutin 4 tahunan mengikuti geliat Indonesian Youth Day.
  • Namun, supaya tidak terlalu jauh dari IYD 2016 di Manado, maka PDYD berikutnya akan diselenggarakan pada tahun 2018 dengan OMK Dekanat Utara sebagai penyelenggara.
  • Rencana Tindak Lanjut juga terjadi di dekanat-dekanat dengan tetap melanjutkan event yang sudah ada. Tema-tema untuk event yang sudah ada akan melanjutkan nuansa dan api dari PDYD, entah dari tema berbagi, atau pendalaman tema-tema workshop. Ini akan dikoordinir oleh para romo moderator sub komisi kepemudaan di masing-masing dekanat.
  • Pembuatan website khusus OMK Keuskupan Purwokerto.

Setelah misa perutusan, Bapa Uskup, Romo Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI, Romo Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Purwokerto, dan Adventin Puput (ketua OC PDYD 2015), melepaskan merpati di depan patung Kristus Raja. Simpul yang menarik.

Misi awal Keuskupan Purwokerto diberi nama Misi Kristus Raja. Setelah sekian tahun, 700-an OMK Katolik diutus untuk menjadi garam dunia, membawa sinar kekatolikan ke masyarakat (demikian pesan Bapa Uskup).

Akhirnya, “talita kum’, anak muda bangunlah. Kata-kata Yesus ini semoga sungguh berdaya… OMK Keuskupan Purwokerto bangunlah, bangkitlah. Berbagilah karena kalian adalah pribadi terberkati.

Demikian kisah dan refleksi saya.
Laporan kegiatan akan segera kami susun dan akan kami berikan kepada bapa uskup dan romo2 paroki sekalian.

Berkah Dalem

rd frans kristi adi prasetya
ketua komisi kepemudaan keuskupan purwokerto

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *