Home / Sesawi / Sembuh karena ‘Mukjizat’ Ekaristi

Sembuh karena ‘Mukjizat’ Ekaristi

Ekaristi

MISA harian yang saya tunggu-tunggu akhirnya bisa saya ikuti dengan khusuk. Sudah lama saya merindukan saat-saat tenang nan teduh dalam perayaan ekaristi harian. Pada hari libur sekolah seperti ini satu hal yang saya inginkan adalah bisa ikut misa dengan khidmat seperti pada masa-masa dahulu saya di asrama susteran di Yogyakarta selama sepuluh tahun.

Menjadi pekerja dengan jam kerja dari jam tujuh sampai empat sore membuat saya tidak dapat hadir dalam misa harian yang saya rindukan. Meski bila kerinduan tak tertahankan saya nekad naik motor ke gereja yang saya lewati ke kantor. Biasanya sehari-hari saya berangkat bersama tiga anak saya. Seperti layaknya para Ibu yang bekerja pada zaman ini, saya bangun pagi lalu saya sempatkan renungan pagi selama satu jam, memasak dan menyiapkan segala keperluan anak-anak dan terengah-engah sampai di kantor.

Jika sopir yang biasa datang, berhalangan maka saya menyetir sendiri tanpa pernah bisa mampir ke gereja. Mana sempat ikut misa yang dimulai pukul enam pagi?

Maka bila keadaan memungkinkan, saat sopir tidak absen, bekal anak-anak sudah saya persiapkan, saya memilih naik motor sendiri dan ikut misa sebelum bekerja. Sering saya ngebut naik motor, duapuluh menit kemudian sudah sampai di gereja padahal jarak rumah saya cukup jauh dengan gereja. Saya melewati persawahan dan perkebunan timun yang sepi pada pukul 05.30 dengan sepeda motor sendirian.

Entah semangat apa yang membuat saya nekat menempuh risiko seperti itu. Namun toh saya bersyukur karena malaikat pelindung mendampingi saya dan menghalau segala bahaya yang ada di hadapan saya. Masih ingat bahaya begal motor yang mengintai siapa saja dan berbagai macam kemungkinan kecelakaan karena mengendarai motor dengan kecepatan cukup tinggi. Tuhan menyertai saya.

Kadang pula sore setelah jam kerja saat ada jadwal misa sore, beberapa kali ingin ikut tetapi amatlah sulit karena anak-anak yang pulang bersama saya mengeluh capek dan kelihatan sudah mengantuk  (dua anak saya menunggu saya di kantor sampai pukul empat), sehingga misa sore pukul enam amat jarang saya ikuti.

Saya hanya sering berseru dalam hati : Tuhan saya ingin menyambutMu dalam perayaan Ekaristi……Beberapa kali Tuhan membuat mujizat luarbiasa dengan menjawab seruan saya secara langsung. Ia membuat segala yang mustahil menjadi mungkin, segala kendala yang saya hadapi dapat teratasi dengan cara ajaib.

Kini liburan telah tiba, meski ada rencana liburan bersama keluarga keluar kota tetapi yang membahagiakan saya adalah waktu dimana saya dapat ikut misa dan hening di altar dalam perayaan Ekaristi. Kekuatan rohani yang saya timba dalam waktu berahmat itu membuat hari-hari saya bagai dijaga dari segala godaan dan mara bahaya. Jiwa saya yang dahaga bagai terpuaskan dan batin saya merasa lebih tenang dalam melakukan berbagai aktifitas di dunia penuh ujian dan godaan ini.

Menjadi sembuh

Kecintaan saya pada peristiwa iman ini saya rasakan ketika saya mengalami keajaiban kesembuhan dalam perayan Ekaristi. Suatu hari, beberapa waktu silam saya merasakan sakit luarbiasa di bagian punggung. Terbiasa merasakan badan sehat dan jarang sakit membuat saya abai terhadap rasa nyeri itu, tetapi lam kelamaan sakit itu makin menyiksa. Sehingga apada suatu misa hari Minggu sore, saat saya bisa duduk di deretan paling depan, saya dengan leluasa dapat menatap hosti yang dikonsekrasi dan menatap monstran yang ada di altar. Pada saat konsekrasi saya sungguh dengan hormat dan percaya meminta kesembuhan untuk sakit punggung saya.

Waktu itu saya merasakan dorongan batin yang kuat ntuk meminta kesembuhan pada saat imam melakukan konsekrasi dalam perayaan Ekaristi. Beberapa hari kemudian dalam aktifitas saya yang padat baru saya sadari sakit punggung saya sudah sembuh total sehari setelah perayaan Ekaristi Minggu sore itu.

Saya mudah menitikkan air mata terutama saat menerima komuni kudus. Entah mengapa setiap kali maju menerima komuni batin saya begitu terharu dan pelupuk mata menitikkan butir airmata. Betapa Tuhan mengasih dan mencitai saya secara penuh, Dia menjadi penebus dosa-dosa saya dan mengijinkan saya yang berlumur dosa ini menikmati limpahan berkat rohani dan jasmani. Betapa baiknya Tuhan itu.

Itulah sebabnya sekarang saya amat ingin anak-anak, keluarga dan teman-teman menyaksikan betapa Tuhan dapat melimpahkan rahmat yang kita minta dalam suatu perjumpaan yang mengharukan dalam perayaan Ekaristi. Sering saya wartakan dalam media sosial dan dalam perbincangan sehari-hari.

Namun berapa yang terpanggil, meski tahu dan ingin?

Kredit: Ilustrasi (Ist)

About dr.gaplek

Check Also

Mutiara Filosofi Jawa dari Pujangga Ronggowarsito

Pengantar

Salah seorang rekan mengirim naskah bagus ini di sebuah grup milis internal katolik. Karena bagus, kami tertarik mengangkatnya dan mempostingkan naskah ini kepada pembaca. Terima kasih kepada Mas L. Suryoto atas postingannya.

Raden Ngabehi Ranggawarsita atau Ronggowarsito adalah pujangga besar budaya dan filosofi Jawa. Beliau lahir di Surakarta (Solo), Jateng, 15 Maret 1802 dan meninggal di Solo, 24 Desember 1873.

———————-

Rejeki iku ora iså ditiru…,

rejeki itu tidak bisa

ditiru..

Senajan pådå lakumu…,

walau sama

cara hidupmu

Senajan pådå dodolan mu…,

walau sama

jualanmu

Senajan pådå nyambut gawemu…,

walau sama

pekerjaanmu…

Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,

hasil yang

diterima akan berbeda

satu sama lain

Iså bedå nèng akèhé båndhå…,

bisa lain dalam

banyaknya harta

Iså ugå ånå nèng råså lan ayemé ati,

 Yåaa iku sing jenengé bahagia….,

bisa lain dalam

rasa bahagia dan

ketenteraman hati

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,

semua itu atas

kasih dari tuhan yang

maha kuasa

Såpå temen bakal tinemu…,

barang siapa bersungguh-sungguh

akan menemukan

Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå… ,

barang siapa berani

bersusah payah

akan menemukan

kemuliaan

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..,

bukan banyaknya

melainkan berkah

nya yang menjadikan

cukup dan

mencukupi

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.

sudah digariskan

oleh takdir bahwa

semua yang hidup

itu sudah diberi

bekal oleh yang

maha kuasa

Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,

jalan hidup

dan rejeki sudah

tersedia.. dekat..

seperti udara yang

kita hirup setiap

harinya

Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,

Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå…,

tetapi kadang

manusia silau mata

dan gelap hati,

yang jauh kelihatan

berkilau dan

menarik hati..

tetapi yang dekat

didepannya dan

menjadi tanggung

jawabnya disia sia

kan seperti tak ada

guna

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

rejeki itu sudah

disediakan oleh

tuhan, tidak bakal

berkurang untuk

mencukupi

kebutuhan manusia

dari lahir sampai

mati

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

tetapi kalau

menuruti kemauan

manusia yang tidak ada

batasnya, semua

dirasa kurang

membuat ruwet di hati

dan pikiran

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå  waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

petuah orang tua,

jalanilah apa yang

ada didepan mata

dan jangan terlalu

berharap lebih untuk

yang belum ada

kalau memang

milikmu pasti akan

ketemu..

kalau bukan jatahmu..

apalagi sampai

merebut milik orang

memakai càra tidak

baik, itu akan

membuat hidupmu

merana, sengsara

dan angkara murka

semua itu akan sirna

kembali ke asalnya

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé…,

seumpama

ketenteraman itu

bisa dibeli dengan

hàrta, alangkah

sengsaranya orang

yang tidak punyà

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…,

untungnya,

ketenteraman bisa

dimiliki oleh siapa

saja yang tidak

mengagungkan

keduniawian, suka

menolong orang lain dan

mensyukuri hidupnya.

Kredit foto: Ist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *