Home / Renungan Harian Online / Smirna – Laodikia (2)

Smirna – Laodikia (2)

(sambungan)

Yesus sudah mengingatkan kita semua bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). Mungkin sulit bagi jemaat Smirna untuk makan yang layak, enak dan mewah setiap hari, bahkan mereka mungkin merasa heran apabila satu hari berlalu tanpa adanya tekanan atau masalah. Tetapi mereka ternyata tidak patah semangat. Mereka justru menjadi tegar dalam ketaatan mereka kepada Sang Roti Hidup, the Bread of life. Di mata dunia mereka mungkin miskin dan rendah, tetapi sama sekali tidak demikian di mata Tuhan.

Apa yang dikatakan kepada jemaat Smirna sangatlah berbanding terbalik dengan jemaat Laodikia. Jemaat Laodikia dikatakan kaya secara materi tetapi di mata Tuhan mereka sesungguhnya terlihat miskin. Lihatlah teguran yang dijatuhkan kepada mereka. “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” (Wahyu 3:17). Kekayaan secara materi ternyata membutakan mata mereka, sehingga mereka menjadi tidak sungguh-sungguh dalam ketaatan.

Tuhan memandang itu sebagai sebuah sikap yang suam-suam kuku, tidak dingin atau panas. Dan sikap itu membuahkan teguran keras. “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (ay 16). Tuhan kemudian berkata: “maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.” (ay 18). Selanjutnya Tuhan memberikan sebuah peringatan yang tentu saja berlaku pula bagi kita semua hari ini: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (ay 19). Kalau tidak mau dihajar Tuhan, berbesar hatilah ketika ditegur dan segeralah bertobat.

Ada perbedaan kontras antara jemaat Smirna dan Laodikia. Meski dalam penderitaan menghadapi ketidakadilan, kemiskinan, fitnahan, tekanan dan siksaan sekalipun, mereka mampu terus taat dan menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan dengan sepenuhnya. Sebaliknya jemaat Laodikia sangat kaya raya dan hidup dalam kemewahan, tetapi itu membuat mata mereka tertutup oleh segala yang mereka miliki. Yang satu menuai pujian sedang satu lagi ditegur dengan sangat keras.

Jangan terjebak pada kesalahan yang sama dengan jemaat Laodikia dan teladanilah sikap jemaat Smirna. Mengikuti Kristus bukanlah berarti bahwa kita kemudian hidup bebas dari masalah dan bisa berjalan tanpa hambatan, lalu bisa seenaknya berbuat apapun sesuka kita. Orang diluar sana ada banyak yang menjadi sok jagoan dengan menyandang atribut-atribut keagamaan, tapi itu tidak boleh terjadi pada kita. Menjadi orang percaya pada kenyataannya bisa menempatkan kita ke dalam posisi sulit seperti yang mungkin kita alami hari ini. Disisihkan, dicemooh, diperlakukan tidak adil bahkan seperti yang dialami banyak orang percaya dalam kasus-kasus tertentu, ancaman dan aniaya pun bisa menjadi ‘salib’ yang harus rela kita pikul.

Ironisnya perlakuan seperti ini bukan hanya datang dari orang-orang yang tidak mengenal Kristus saja, melainkan bisa pula hadir lewat orang-orang yang mengaku beriman kepada Kristus. Bukankah kita setidaknya pernah bertemu dengan orang-orang yang mengaku percaya tetapi begitu mudah menghakimi? Bukankah kita melihat adanya gereja-gereja yang hanya berlomba rebutan jemaat kaya dan yang dengan mudahnya menghakimi atau bahkan mengusir jemaatnya? Bukannya membantu saudaranya yang susah, tapi malah mengata-ngatai dan menuduh bahwa kemiskinan yang mereka alami itu karena kutuk, dosa dan sebagainya tanpa terlebih dahulu melihat letak permasalahannya. Tapi semua itu hendaknya tidak melemahkan kita, sebab sejak awal Yesus sendiri sudah mengingatkan: “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23).

(bersambung)

About dr.gaplek

Check Also

Belajar Lewat Keteladanan Paulus (2)

(sambungan)Dalam masa hidupNya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung pula. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk m...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *